Ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan. Terkadang menggengam terlalu erat hanya akan membuat apa yang kita genggam bertahan sedikit lebih lama. Sesuatu yang bukan ditakdirkan untuk digenggam pada akhirnya akan lepas juga. Apapun usaha kita untuk menahannya, menggenggamnya erat sekali. Menggenngam sesuatu dengan erat. tidak hanya akan menyakiti apa yang kamu genggam, tapi juga akan menyakiti tanganmu sendiri. Cara terbaik untuk keduanya adalah mungkin melepaskannya dengan ikhlas.
Ada yang disebut bukan jodoh, bukan rejeki. Mau dipaksa seperti apa juga tidak akan bisa bersama, tidak bisa kita dapatkan. Namun apapun itu yang sudah menjadi jodoh dan rejekinya, mau dihindari seperti apa juga akan datang perlahan kepada kita.
Lepaskan,
Ikhlaskan,
Kamu siapa? mungkin hanya seperti butiran debu yang bahkan bila kamu pergi tidak akan ada yang menyadarinya. :). Jauh beda dengan dia yang sudah mapan segalanya. Mungkin masih banyak ego yang belum bisa saya lepas.
Didoakan saja, semoga dia mendengarnya. :)
It's my place to share what I feel, what I have and what I think, Be yourself and find a unique side of you,, Taare Zamen Paar,, Every person is unique
Sabtu, 14 November 2015
Sabtu, 31 Oktober 2015
Donor Darah
Hari ini adalah pengalaman pertama saya donor darah. Mencoba melawan rasa takut dengan jarum suntik,hehehe. Bermula dari sebuah keisengan. Berbekal sebuah email yang berisi tiket gratis masuk ke Monjali, saya dan icha, teman saya, datang ke sana untuk melihat Penutupan PK 45 BPI LPDP. Setalah melihat berbagai pertunjukan, kami menuju stand stand makanan untuk berburu makanan darah (gratis) dari berbagai daerah di nusantara. Di tempat yang sama, saya juga melihat stand Donor darah. Keisengan saya muncul, biasanya tensi saya berkisar di 90-110, jarang sekali dapat 110, jadi saya mendaftar untuk donor darah dengan harapan saya tidak lolos tensi darah,hehe. Setelah di cek, tensi saya 120/80. huhuhu, sempet sedih, kok saya lolos :p
Akhirnya saya harus menunggu ke tes selanjutnya, uji Hb. Disini saya kembali berharap kalo kadar Hb saya tidak lolos. Setelah di cek ternyata Hb saya lolos :). Yah berarti memang hari ini adalah rejeki saya untuk donor darah, kebetulan sedang tanggal tua, haha, tak ada isi dompet yang bisa di donorkan, darah pun jadi :))
Saya mnunggu hamoir setengah jam untuk diambil darahnya. ngeliatin orang-orang berbaring sambil diambil darahnya sebanyak 350 mL sempat membuat saya ingin pura2 ke toilet dan tak kembali lagi,hahaha. Sudah kepalang tanggung, maju terus pantang mundur. Akhirnya tiba giliran saya untuk donor. Mbak petugasnya sempet beberapa kali memijat bagian lengan saya untuk dicari pembulh darahnya. Ngerii, Pembuluh saya tidak begitu kelihatan dan reflek saya ngomong "Mbak, tolong ya nyuntiknya sekali saja". Mbaknya agak gimana gt sambil bilang "gengem tangannya yg kuat ya mbak, biar kelihatan pembuluh darahnya". Langsung deh saya kepalkan tangan saya sekuat-kuatnya,wkwkwk. Serius gais, donor darah sakitnya cuma pas jarum dimasukkan ke pembuluh darah pas pertama, habis itu sudah tidak sakit. Alhamdulillah, akhirnya saya berani donor darah :))
Ketika selesai, temen2 saya sdh menunggu di luar dan mereka tanya-tanya:
Icha: Mik, gimana, sakit nggak donor darah?
Mike: Nggak kok ca, masih lebih sakit patah hati :p haha
Obrolan lain:
Ika: Mbak mike akhirnya donor darah darah juga.
Mike: iya ka, berhubung tanggal tua, dompet tak bisa diharapkan, cuma darah yang aku punya, :p
Abaikan obrolan2 di atas, haha,, Memang pengalaman pertama selalu menjadi yang paling berkesan. Rasa takut, ragu ragu seringkali menghalangi kita untuk melakukan sesuatu yang baru. let's be more brave to face anything new :)
Rabu, 07 Oktober 2015
Focus
Fokus mikee :)
I know that is not easy, but it does not mean that you can not do
Khawatir itu pasti, tapi jangan sampai menganggu fokus utama. Toh, semua sudah di atur. Justru bahaya kalo kamu tidak khawatir sama sekali. You are still normal. :)
Ingat, Allah bersama mahasiswa tingkat akhir, :D
Keep strugle. Semangat baca jurnal, tesis, sama hatinya dia, eh.hatinya dosen maksudnya wkwkwk
#Nyampah
#Iseng
#Abaikan
Jumat, 22 Mei 2015
Dari Pisang hingga Kupu-kupu
Ada banyak hal yang terjadi, kehidupan studi benar-benar menyenangkan. Belajar ini itu dan mengetahui bahwa banyak hal sepele yang biasanya menjadi sangat penting dan berguna.
Ada apa dengan pisang? sebenarnya tidak hanya buah pisang, buah lainnya seperti mangga juga seringkali di peram agar menjadi cepat masak. Pisang dan mangga yang seharusnya belum masak dipercepat reaksi dalam sel nya hingga menjadi lebih cepat masak. Rasanya, tetap manis, namun masih kalah dengan buah pisang atau mangga yang memang benar-benar masak dari pohonnya di waktu yang memang seharusnya. Segala sesuatu memiliki waktunya sendiri.
Pun dengan masalah hati. Ada kalanya kita merasa kagum dengan seseorang. Entah itu teman sendiri, atau orang tanpa nama yang kita temui setiap hari atau bahkan hanya sekali seumur hidup. Rasa itu bukan kata-kata yang harus diucapkan, karena rasa pastinya harus dirasakan. Dengan apa? tentu dengan hati yang secara otomatis akan terkoneksi dengan otak kita. Seperti buah pisang dan mangga yang mulai masak. Biarkan rasa itu berkembang sesuai dengan waktunya. Jika memang masak benar, maka si pemilik buah pasti akan memetik buahnya.
Lalu, kita harus membiarkan buah-buah itu masak begitu saja dan harus menunggu saja?? segala sesuatu, apapun itu akan selalu memerlukan usaha. Supaya buah-buahmu aman, kamu bisa memasang plastik atau istilah jawanya di brongkos biar tidak dimakan oleh kelelawar. Namun jangan sampai kita proteksi berlebihan, bukan aman, malah buah bisa jadi menjadi berkembang tak normal. Yes, over protektif itu sepertinya kurang baik bagi kesehatan :). Maka jaga perasaanmu kepadanya, jangan sampai mati dan jangan sampai membuat logikamu mati. hehehe, susah yaa :)
Ingat bahwa seekor ulat akan berubah menjadi kupu-kupu, mereka bermetamorfosis. Kapan? Saat si ulat-ulat ini sudah merasa mereka mampu untuk bermetamorfosis. Ada ulat yang masih kecil tapi sudah membentuk kepompong, namun ada juga yang sudah besar dan gendut, tapi masih merasa belum mampu untuk berubah menjadi kepompong. Ya, setiap hal selalu punya waktu mereka sendiri. Tidak perlu dipaksa untuk dipercepat, ataupun diperlambat.
Usia, ukuran tubuh, tinggi bukan suatu indikator yang digunakan oleh waktu untuk menemukan saat terbaiknya. Ikuti alurnya, sambil tetap menjaga apa yang bisa kau jaga, memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, dan mempertahankan apa yang bisa dipertahankan.
Ada apa dengan pisang? sebenarnya tidak hanya buah pisang, buah lainnya seperti mangga juga seringkali di peram agar menjadi cepat masak. Pisang dan mangga yang seharusnya belum masak dipercepat reaksi dalam sel nya hingga menjadi lebih cepat masak. Rasanya, tetap manis, namun masih kalah dengan buah pisang atau mangga yang memang benar-benar masak dari pohonnya di waktu yang memang seharusnya. Segala sesuatu memiliki waktunya sendiri.
Pun dengan masalah hati. Ada kalanya kita merasa kagum dengan seseorang. Entah itu teman sendiri, atau orang tanpa nama yang kita temui setiap hari atau bahkan hanya sekali seumur hidup. Rasa itu bukan kata-kata yang harus diucapkan, karena rasa pastinya harus dirasakan. Dengan apa? tentu dengan hati yang secara otomatis akan terkoneksi dengan otak kita. Seperti buah pisang dan mangga yang mulai masak. Biarkan rasa itu berkembang sesuai dengan waktunya. Jika memang masak benar, maka si pemilik buah pasti akan memetik buahnya.
Lalu, kita harus membiarkan buah-buah itu masak begitu saja dan harus menunggu saja?? segala sesuatu, apapun itu akan selalu memerlukan usaha. Supaya buah-buahmu aman, kamu bisa memasang plastik atau istilah jawanya di brongkos biar tidak dimakan oleh kelelawar. Namun jangan sampai kita proteksi berlebihan, bukan aman, malah buah bisa jadi menjadi berkembang tak normal. Yes, over protektif itu sepertinya kurang baik bagi kesehatan :). Maka jaga perasaanmu kepadanya, jangan sampai mati dan jangan sampai membuat logikamu mati. hehehe, susah yaa :)
Ingat bahwa seekor ulat akan berubah menjadi kupu-kupu, mereka bermetamorfosis. Kapan? Saat si ulat-ulat ini sudah merasa mereka mampu untuk bermetamorfosis. Ada ulat yang masih kecil tapi sudah membentuk kepompong, namun ada juga yang sudah besar dan gendut, tapi masih merasa belum mampu untuk berubah menjadi kepompong. Ya, setiap hal selalu punya waktu mereka sendiri. Tidak perlu dipaksa untuk dipercepat, ataupun diperlambat.
Usia, ukuran tubuh, tinggi bukan suatu indikator yang digunakan oleh waktu untuk menemukan saat terbaiknya. Ikuti alurnya, sambil tetap menjaga apa yang bisa kau jaga, memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, dan mempertahankan apa yang bisa dipertahankan.
Minggu, 19 April 2015
Maka Nikmat Allah Manakah Yang Kamu Dustakan
Merasa bahwa apa yang sudah saya lakukan terasa sia-sia. Kemudian mulai merasa ragu dan mulai mencari-cari kesalahan diri sendiri. Kenapa harus begini dan begitu, seterusnya.
Ada beberapa hal yang mungkin sedikit susah untuk dijelaskan. Karena memang tak semuanya butuh penjelasan. Lakukan, dan perlahan kamu akan mengerti.
Pilihan ini sudah terencana sejak beberapa tahun lalu, step per step saya lalui dengan sungguh-sungguh. Selalu terbayang bagi saya sulitnya persiapkan semuanya, namun tak lupa bayangan jikalau saya berhasil melakukan apa uang saya lakukan.
Kodrat wanita memang sudah ditentukan, bahkan tak ada niat untuk melupakannya barang sejengkal. Mungkin yang terlihat saya terlalu mengejar prestasi atau mungkin karier. Saya percaya, semuanya butuh proses, bersakit-sakit dahulu lalu berenang-renang kemudian. Sebelum saya melabuhkan hati saya, saya percaya saya harus berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki diri saya agar kelak saya bisa memenuhi kodrat yang sudah dituliskan dengan sebaik-baiknya. Mempersiapkan masa depan, bukan sekedar masa depan saya sendiri, namun nanti yang akan menjadi tanggung jawabmu kelak.
Terbayang impian saya yang tidak terlaksana, menjadi seorang dokter. Jikalau intelektualitas saya tinggi, saya yakin pasti saya bisa meraihnya. Sayang, dengan otak yang pas pasan, dan ekonomi yang pas pasan pula, saya harus merelakannya. :)
Itu bukan akhir. Itu awal buat saya untuk mencari impian baru. Ingin menjadi apa dan apa kontribusi untuk orang disekitar saya.
Ketika impian baru sudah terpenuhi, menjadi kandidat master, tiba-tiba ada statemen lama yang mengganggu. :)
Ya, hidup memang tak selalu mulus. Selalu ada lika liku nya. Saya mengingat ingat apa yang sudah saya lakukan selama ini. Ribuan orang ingin mendapatkan posisi saya saat ini. Dan saya pasti sangat berdosa jika saya harus merasa menyesal. Ingat doa yang selalu saya panjatkan. "jika ini rejeki ku, maka izinkanlah aku untuk mendapatkan-Nya, jika bukan, saya ikhlas, karena saya tahu pilihan-Mu adalah pilihan terbaik"
Bersyukur dengan keluarga yang selalu mendoakanmu di rumah,
Bersyukur dengan keluarga besar yang selalu berdoa untuk kebaikanku
Bersyukur dengan keluarga besar LPDP yang selalu menginspirasi untuk berbakti pada negeri
Beryukur dengan keluarga rekan kuliah yang saling membantu dalam kesulitan belajar,
"Maka Nikmat Allah Manakah Yang Kamu Dustakan"
Ada beberapa hal yang mungkin sedikit susah untuk dijelaskan. Karena memang tak semuanya butuh penjelasan. Lakukan, dan perlahan kamu akan mengerti.
Pilihan ini sudah terencana sejak beberapa tahun lalu, step per step saya lalui dengan sungguh-sungguh. Selalu terbayang bagi saya sulitnya persiapkan semuanya, namun tak lupa bayangan jikalau saya berhasil melakukan apa uang saya lakukan.
Kodrat wanita memang sudah ditentukan, bahkan tak ada niat untuk melupakannya barang sejengkal. Mungkin yang terlihat saya terlalu mengejar prestasi atau mungkin karier. Saya percaya, semuanya butuh proses, bersakit-sakit dahulu lalu berenang-renang kemudian. Sebelum saya melabuhkan hati saya, saya percaya saya harus berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki diri saya agar kelak saya bisa memenuhi kodrat yang sudah dituliskan dengan sebaik-baiknya. Mempersiapkan masa depan, bukan sekedar masa depan saya sendiri, namun nanti yang akan menjadi tanggung jawabmu kelak.
Terbayang impian saya yang tidak terlaksana, menjadi seorang dokter. Jikalau intelektualitas saya tinggi, saya yakin pasti saya bisa meraihnya. Sayang, dengan otak yang pas pasan, dan ekonomi yang pas pasan pula, saya harus merelakannya. :)
Itu bukan akhir. Itu awal buat saya untuk mencari impian baru. Ingin menjadi apa dan apa kontribusi untuk orang disekitar saya.
Ketika impian baru sudah terpenuhi, menjadi kandidat master, tiba-tiba ada statemen lama yang mengganggu. :)
Ya, hidup memang tak selalu mulus. Selalu ada lika liku nya. Saya mengingat ingat apa yang sudah saya lakukan selama ini. Ribuan orang ingin mendapatkan posisi saya saat ini. Dan saya pasti sangat berdosa jika saya harus merasa menyesal. Ingat doa yang selalu saya panjatkan. "jika ini rejeki ku, maka izinkanlah aku untuk mendapatkan-Nya, jika bukan, saya ikhlas, karena saya tahu pilihan-Mu adalah pilihan terbaik"
Bersyukur dengan keluarga yang selalu mendoakanmu di rumah,
Bersyukur dengan keluarga besar yang selalu berdoa untuk kebaikanku
Bersyukur dengan keluarga besar LPDP yang selalu menginspirasi untuk berbakti pada negeri
Beryukur dengan keluarga rekan kuliah yang saling membantu dalam kesulitan belajar,
"Maka Nikmat Allah Manakah Yang Kamu Dustakan"
Selasa, 14 April 2015
menunggu
Menunggu itu tidak mudah, ad banyak hal yang harus dijaga. Terlebih jika yang ditunggu masih belum ad kepastian.
Senin, 13 April 2015
kontradiksi dan asumsi
Hidup selalu berjalan, kadang susah, kadang mudah. Kadang sedib, kadang bahagia. Selalu ad kontradiksi yang datang silih berganti. Ya, saya pun demikian. Ada yang harus terucap, namun tak bisa terucap. Ad yang ingin disampaikan namun tenggelam dalam kelu sang lidah.
Ingat selalu akan janji Tuhanmu. Akan datang masa, waktu yang tepat untuk momen yang tepat. Meski terkadang saya harap itu saudara. Mungkin kontradiksi ini kembali terjadi. Yang saya inginkan, mungkin belum mampu saya dapatkan. Karena saya tau kekurangan saya, jauh dari kata sempurna. Sempurna menurut asumsi mayoritas orang orang. Saya tak tshu asumsi mana yang benar, karena setiap asumsi di buat untuk dapat berlaku pd situasi khusus. Ya, saya pun punya asumsi saya sendiri tentang apa yang saya lakukan meski ternyata hanya minoritas yang mampu melihat ap yang saya kerjakan.
Menunggu anda disini, dalam setiap asumsi, dan kontradiksi yang terjadi.
Ingat selalu akan janji Tuhanmu. Akan datang masa, waktu yang tepat untuk momen yang tepat. Meski terkadang saya harap itu saudara. Mungkin kontradiksi ini kembali terjadi. Yang saya inginkan, mungkin belum mampu saya dapatkan. Karena saya tau kekurangan saya, jauh dari kata sempurna. Sempurna menurut asumsi mayoritas orang orang. Saya tak tshu asumsi mana yang benar, karena setiap asumsi di buat untuk dapat berlaku pd situasi khusus. Ya, saya pun punya asumsi saya sendiri tentang apa yang saya lakukan meski ternyata hanya minoritas yang mampu melihat ap yang saya kerjakan.
Menunggu anda disini, dalam setiap asumsi, dan kontradiksi yang terjadi.
Langganan:
Postingan (Atom)