Minggu, 29 Juli 2012

SBI Indonesia VS SBI Jepang


Pendidikan ku sayang, pendidikanku malang.

Sekolah Bertaraf Internasional atau lebih dikenal dengan SBI sedang naik daun di kalangan masyarakat. Mutu sekolah SBI dianggap lebih baik, baik dari segi pengajaran, bahasa, fasilitas, serta “besarnya biaya pendidikan”. Fasilitas lengkap serta teknologi yang canggih menjadi salah satu ikon SBI. Penyampaian materi menggunakan bahasa Internasional yaitu bahasa Inggris. Biaya sekolah yang harus dibayar pada awal masuk pun terbilang fantastis, bahkan bisa lebih mahal daripada biaya masuk Perguruan Tinggi Swasta. Saat ini bersekolah di SBI tidak hanya memenuhi kebutuhan mendapatkan pendidikan, namun sudah bermetamorfosis menjadi sebuah gengsi tersendiri.

Di Jepang, sekolah bertaraf internasional tidak begitu populer. Banyak profesor dari Jepang yang ternyata tidak bisa berbahasa Inggris. Suatu pertanyaan yang pasti muncul di benak kita, bagaimana Jepang bisa seperti itu. Tidak perlu di ragukan lagi jika Jepang merupakan salah satu negara di Asia yang paling di segani. Jepang terkenal akan Sumber daya Manusia serta teknologi yang tinggi. Bangsa Jepang sadar bahwa negara mereka tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah, oleh karena itu upaya yang bisa mereka lakukan adalah dengan menciptakan sumber daya manusia yang tinggi sehingga mereka tetap bisa bersaing dengan negara lain yang kaya akan sumber daya alam.

Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia di Jepang. Pasca terpuruk dengan bom di Hiroshima dan Nagasaki, dua kalangan yang mendapatkan prioritas dari pemerintah Jepang adalah Tenaga Kesehatan dan guru. Negara Jepang sangat sadar bahwa pendidikan sangat penting untuk bangkit dan menjadi negara yang kembali bisa bersaing.

Semula kita pasti mengira bahwa sistem pengajaran di Jepang menggunakan bahasa Inggris sehingga teknologi mereka berkembang sangat cepat karena akses informasi dunia saat ini sebagian besar berbahasa inggris. Namun ternyata proses belajar mengajar di Jepang menggunakan bahasa Jepang sendiri. Sekolah bertaraf Internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar kurang diminati di sana. SBI hanya diminati oleh anak yang memang ingin melanjutkan studinya di Luar negeri. Namun mengapa meskipun menggunakan bahasa Jepang, akses informasi terbaru dari luar negeri di Jepang bisa sangat cepat? Di Jepang, sumber-sumber informasi yang baru dari Luar negeri, seperti buku, jurnal, dan lain lain bisa didapatkan dalam bahasa Jepang dalam waktu yang tidak lama. Misalnya, jika suatu buku di USA dirilis tanggal 1, maka seminggu sesudahnya kita bisa membeli buku yang sama namun dalam bahasa Jepang.
Di indonesia, banyak SBI yang menawarkan berbahasa pengantar bahasa Inggris namun pada kenyataannya pendidikan kita masih jauh di bawah Jepang yang menggunakan bahasa Jepang. Kendala di Indonesia adalah sulit untuk memperoleh buku-buku ataupun jurnal-jurnal terbaru dalam bahasa Indonesia. Jika di Jepang hanya butuh waktu seminggu, mungkin di Indonesia bisa butuh waktu berbulan-bulan. Oleh karena itu, memilki kemampuan berbahasa Inggris masih sangat diperlukan di Indonesia jika tidak ingin tertinggal informasi terbaru di dunia. Selain itu, selama ini impelementasi dari teori menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar juga masih hanya sekedar teori yang jarang di implementasikan. Masalah ini bisa muncul dari pihak pendidik maupun dari pihak guru sendiri. Seorang guru yang berusia lebih dari 40 tahun tentu sulit untuk belajar bahasa Inggris dalam waktu yang singkat jika memang tidak memiliki background pernah tinggal di luar negeri. Begitu juga dengan siswa, misalnya saja sejak SD hingga SMP mereka biasa menggunakan bahasa Indonesia, tentu akan menjadi sulit jika begitu masuk SMA mereka harus menggunakan bahasa Inggris dalam proses belajar mengajar mengingat bahasa bukan sekedar teori matematika yang cukup dhafalkan dan dimengerti saja. Belajar bahasa butuh waktu untuk berlatih dan terus berlatih hingga menjadi terbiasa.

Iklim pendidikan di Indonesia juga berbeda dengan di Jepang. Di Indonesia setiap awal tahun ajaran baru para siswa berebut mendaftar di sekolah favorit meskipun letak sekolah tersebut jauh dari rumah. Akibatnya persebaran kemampuan akademik siswa tidak merata. Ada sekolah dengan kemampuan siswa yang sangat tinggi dan ada pula sekolah dengan kemampuan siswa yang rendah. Dengan distribusi yang demikian, penelitian pengembangan tentang keefektifan suatu metode, modul, bahan ajar, maupun sarana pembelajaran yang lainnya menjadi bersifat spesifik atau khusus untuk suatu sekolah. Hasil dari suatu penelitian tidak bisa digeneralisasi dengan sekolah lain. Akibatnya penelitian pendidikan sulit berkembang di Indonesia. Berbeda dengan di Jepang, sejak SD siswa bersekolah di sekolah yang terdekat dengan rumahnya. Ketika siswa sudah mencapai kelas tertentu, maka siswa tersebut harus berangkat sendiri ke sekolahnya, hal ini melatih anak untuk menjadi lebih mandiri. Berbeda dengan di Indonesia yang banyak anak bersekolah di SD dengan jarak puluhan kilometer dari rumahnya. Tentu saja tidak mungkin siswa SD tersebut harus berangkat sekolah sendiri. Persebaran kemampuan siswa juga lebih merata. Hampir semua sekolah di Jepang memiliki rata-rata kemampuan siswa yang sama, sehingga ketika diadakan pendataan kemampuan siswa di sekolah akan dihasilkan kurva normal, dimana jumlah siswa yang  kemampuan sangat rendah hanya sedikit, lalu jumlahnya meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan siswa, kemudian menurun lagi. Jumlah siswa yang memiliki kemampuan kurang sebanding dengan siswa yang memiliki kemampuan lebih. Dengan demikian penerapan metode pembelajaran, bahan ajar, strategi pembelajaran, maupun perangkat pembelajaran yang lainnya bisa menghasilkan hasil yang sama antar satu sekolah dengan sekolah yang lain.

Sudah saatnya pendidikan di Indonesia kembali ke makna harfiah sebenarnya, mencari ilmu serta pengalaman untuk bekal menjalani kehidupan. Pendidikan bukan sekedar gengsi sekolah ataupun gengsi orang tua. Berapa banyak mahasiswa yang kuliah di jurusan favorit “orang tua” atau jurusan favorit “teman-teman” mereka.  Berapa banyak atlet berbakat kita yang akhirnya menjadi sarjana teknik atau menjadi guru. Belajarlah di bidang yang kalian minati dan kalian punya bakat besar di sana. Taukah anda berapa banyak gaji seorang pemain bola internasional? Ibrahimovic dari PSG mendapatkan gaji sebesar 2,8 Milyar per pekan, sebuah angka yang fantastis. Jika berbakat di dunia olahraga, maka ambilah pendidikan di sekolah yang bisa mngembangkat bakat olahraga yang dimiliki serta yang paling penting adalah membentuk mental juara, semangat pantang menyerah dan tidak mudah putus asa untuk meraih prestasi yang membanggakan negara. Mindset ada satu pekerjaan yang paling wah dibanding yang lain harus mulai dihapus. Yang terpenting adalah bagaimana bermanfaatnya kita untuk lingkungan sekitar kita serta totalitas kita dalam melaksanakan pekerjaan yang kita cintai. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar